Kampung Batik Laweyan Solo

Kampung Batik Laweyan Solo, kampung batuik laweyan solo terletak di sebelah barat kecamatan puwosari. Kampung batik laweyan sendiri memiliki sejarah. Kampung batik Laweyan adalah salah satu kawasan heritage di Kota Solo. Kampung lawas ini sarat dengan cerita sejarah kehidupan masyarakat Kota Solo tempoe doeloe. Memasuki Kampung Laweyan dan berjalan di antara tembok-tembok membuat saya seakan terlempar ke masa lalu.

Tembok-tembok tua dengan warna yang memudar itu menjadi saksi masa kejayaan batik Laweyan. Daerah Laweyan dulu banyak ditumbuhi pohon kapas dan merupakan sentra industri benang yang kemudian berkembang menjadi sentra industri kain tenun dan bahan pakaian.Kain-kain hasil tenun dan bahan pakaian ini disebut dengan lawe, sehingga daerah ini kemudian dinamakan Laweyan. Sejarah Laweyan Sejarah Laweyan seperti ditulis oleh R.T. Mlayadipuro dimulai sejak 600 tahun lalu, sebelum munculnya Kerajaan Pajang di awal abad ke-15.

Keberadaan Laweyan ditandai dengan bermukimnya Kyai Ageng Henis di desa ini pada tahun 1546 M. Lokasi Desa Laweyan awalnya di sebelah utara Pasar Laweyan (sekarang Kampung Lor Pasar Mati). Setelah Kyai Ageng Henis meninggal dan dimakamkan di pasarean Laweyan, rumah tempat tinggal Kyai Ageng Henis ditempati oleh cucunya yang bernama Bagus Danang atau Mas Ngabehi Sutowijoyo. Sewaktu Pajang dipimpin Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) pada tahun 1568,Sutowijoyo lebih dikenal dengan sebutan Raden Ngabehi Loring Pasar kemudian pindah ke Mataram (Kota Gede) dan menjadi raja pertama Dinasti Mataram Islam dengan sebutan Panembahan Senopati.

Menurut RT. Mlayadipuro, aktifitas Laweyan dulunya terpusat di Pasar Laweyan merupakan pasar lawe (bahan baku tenun) yang sangat ramai. Bahan baku kapas pada saat itu banyak dihasilkan dari Desa Pedan, Juwiring, dan Gawok yang masih termasuk wilayah Kerajaan Pajang. Di masa penjajahan Belanda, pada tahun 1905 seorang saudagar batik bernama K.H.Samnhudi memprakarsai terbentuknya Serikat Dagang Islam, menyatupadukan para saudagar batik muslim bumiputra yang ada di Laweyan untuk menghadapi Belanda yang pengaruhnya semakin kuat di dalam kraton. Atas jasa-jasa K.H. Samanhudi, Presiden Soekarno memberikan sebuah rumah untuk K.H. Samanhudi.

Hingga kini rumah K.H. Samanhudi masih ada dan ditempati oleh cucu dan keturunannya. Untuk mengenang jasanya, di kawasan ini juga didirikan Musium Samanhudi. Pada tahun 1935 di Kampung Laweyan bahkan telah berdiri koperasi batik pertama yaitu “Persatoean Peroesahaan Batik Boemi Poetera Soerakarta”. Laweyan Kini – Kampung Wisata & Kampung Batik Kampung Laweyan tidak hanya kaya dengan warisan budaya tapi juga menyimpan sejarah panjang. Terletak Kecamatan Laweyan di tepi Sungai Banaran yang terhubung dengan Sungai Bengawan Solo, 5 km dari pusat kota Surakarta. Kampung Laweyan posisinya sangat strategis, menghubungkan pusat kota dengan kawasan luar kota khususnya wilayah Kartosuro dan Sukoharjo. Jumlah penduduk kampung/kecamatan ini sekitar 2.500 jiwa, 70 orang diantaranya perajin dan pengusaha batik. Dahulu terdapat pengelompokan sosial dalam masyarakat Laweyan, yaitu kelompok wong saudagar (pedagang), wong cilik  (orang kebanyakan), wong mutihan (Islam atau alim ulama) dan wong priyayi (bangsawan atau pejabat).

Di kalangan saudagar atau juragan batik,kaum wanitanyamemegang peranan dalam menjalankan perdagangan batik yang biasa disebut dengan istilah mbok mase atau nyah nganten. Sedangkan para suami disebut mas nganten berperan sebagai pelengkap keutuhan keluarga. Sebagian masyarakat Laweyan masih aktif nguri–uri (melestarikan) kesenian tradisional. Secara rutin secara bersama mereka menggelar musik keroncong dan karawitan yang dimainkan sebagai pengisi acara hajatan seperti mantenan, sunatan, tetakan, kelahiran bayi, dan acara bersama setiap bulan.

Selain berkesenian dalam bidang keagamaan, sebagian besar penduduk Laweyan yang beragama Islam aktif melaksanakan kegiatan keagamaan, seperti pengajian, tadarusan, dan aktivitas keagamaan lainnya. Berwisata ke Kampung Laweyan Wisatawan yang mengunjungi Laweyan pasti tak akan rugi, karena dapat menikmati beberapa objek sekaligus. – Wisata Belanja: Terdapat sekitar 70 toko /showroom penjualan aneka kerajinan batik dan suvenir, dengan harga bisa ditawar, dengan kualitas dan motif berbeda dibanding produk di pasar atau mal. – Wisata Edukasi: Bisa mengikuti pelatihan singkat kewirausahaan kerajinan batik di beberapa rumah produksi seperti Batik Cempaka, Batik Mahkota Laweyan, Batik Puspa Kencana, Batik Putra Laweyan, Batik Merak Manis.Selain melihat proses membatik, pengunjung dapat belajar membuat kain batik mulai dari selembar kain mori putih hingga menjadi selembar batik. Peminatnya kebanyakan turis asing dari Jepang dan Eropa.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/www.gagasulung.com/kampung-berusia-600-tahun-itu-bernama-laweyan_550d35faa333119c1e2e3ec6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked