Ramadan diSolo, Masjid di Solo Bagikan 1.050 Porsi Bubur Samin

Solopos.com, SOLO — Ratusan orang mulai memadati gang di sebelah utara Masjid Darussalam, Jayengan, Serengan, Solo seusai Salat Asar, Sabtu (27/5/2017). Sabtu kemarin adalah hari pertama bagi mayoritas umat Islam Indonesia menjalankan ibadah puasa. Sebagian dari mereka berasal dari tempat yang jauh. Ada pula yang bertempat tinggal tak jauh dari sana.

Mereka datang untuk mendapatkan bubur khas Banjar, Kalimantan, yang lebih dikenal sebagai bubur samin yang memang biasa dibagikan takmir masjid setempat saat Bulan Puasa.

Bubur itu sebenarnya mirip dengan bubur ayam biasa. Hanya paduan rempah khusus dengan pelengkap daging serta sayuran semacam wortel dan daun bawang membuatnya menjadi lain. Kemudian, pembuat bubur menambahkan minyak samin sehingga bubur memiliki rasa dan aroma yang khas.

Hari pertama Ramadan 1428 H, takmir masjid mengolah 45 kg beras. Dengan tambahan bumbu, daging dan sayuran serta air, mereka meracik 1.050 porsi bubur. Ketua Takmir Masjid Darussalam H.M. Rosyidi Muchdlor mengatakan 850 porsi dibagikan secara umum bagi warga yang ingin menyantapnya untuk berbuka.

Sementara 200 porsi lainnya untuk takjil (menu berbuka) bagi jemaah yang berbuka puasa di Masjid Darussalam. “Yang 200 untuk takjil di masjid ini ditambah kopi susu, kurma dan buah-buahan lainnya serta lauk-pauk,” jelasnya kepada wartawan.

Sejak Pagi

Bubur itu dimasak sejak pukul 10.00 WIB dan matang sekitar pukul 15.00 WIB. Artinya, bubur dimasak selama lima jam dengan diaduk terus tanpa henti. Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan bubur itu. Warga menyerbu bubur itu begitu siap disajikan.

“Kami mengikrarkan untuk membagikan bubur banjar tiap Ramadan karena pahala memberi buka  orang berpuasa pahalanya sama dengan orang berpuasa tanpa dikurangi sedikit pun,” tutur Rosyidi.

Selain Bulan Puasa, takmir Masjid Darusaalam juga membagikan bubur banjar saat malam Nifsu Syaban dan Asysyura. Warga RT 003/RW 008, Jayengan, Riri, rutin ikut mengantre untuk mendapatkan bubur gratis di Masjid Darussalam tiap Ramadan. Menurutnya, rasa bubur itu sangat khas dan menggugah selera.

“Rasanya ngangeni. Menunggu setahun sekali baru bisa dapat bubur ini. Ya mungkin kalau sudah akhir Ramadan itu sudah agak bosan,” katanya saat berbincang dengan Solopos.com.

Ia beruntung rumahnya dekat dengan masjid. Menurutnya, orang yang berasal dari tempat yang jauh dari masjid biasanya datang sehabis Asar. “Sehabis Asar, orang sudah pada antre untuk mendapatkan bubur,” terangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked