wisata purba di sangiran jawa tengah

wisata purba di sangiran jawa tengah

Sejarah museum purba ini dimulai pada sekitar 1936-941 oleh seorang ilmuwan antropologi bernama Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald. Ilmuwan asal Jerman tersebut melakukan penelitian di sekitar lokasi dan menemukan 50 fosil lebih, termasuk Pithecanthropus erectus (Manusia Jawa) dan Meganthropus palaeo javanicus.

Koenigswald tertarik menelusuri jejak manusia purba di Sangiran setelah P.E.C schemulling menemukan kawasan itu pada 1883. Peneliti lain, Eugene Dubois memusatkan aktivitas di kawasan Trinil, Ngawi.

Musem Sangiran menjadi wisata Sragen yang diandalkan. Di lokasi ini Anda bisa menemukan gambaran kehidupan manusia purba, kerangka binatang purba, hingga fosil-fosil para ‘raksasa”. Tak ketinggalan juga Sangiran juga bisa menjadi lokasi atau spot unik untuk foto selfie.

Selain fosil dua manusia purba itu, Koenigswald kembali melakukan penggalian dan menemukan fosil hewan seperti badak, tanduk kerbau, gading gajah, tanduk rusa dan lain-lain. Kala itu masyarakat sekitar menyebut temuan tersebut sebagai balung buto dan memperdagangkannya secara bebas.

Koenigswald lantas memberi pengetahuan kepada warga dan mengajak mereka menggali bersama. Secara keseluruhan diperkirakan umur fosil yang ditemukan tersebut berusia 1 sampai 1,5 juta tahun. Umur fosil tersebut juga diperkirakan telah terkubur sejak 2 juta tahun lalu.

Dari 50 fosil yang ditemukan dianggap sudah mewakili 50 persen fosil yang ada di dunia. Kemudian pada 1977, Sangiran dideklarasikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai situs. Menyusul pada 1996, Museum Manusia Purba Sangiran terdaftar dalam situs warisan dunia oleh UNESCO.

Selain fosil manusia dan hewan purba, ditemukan pula fosil binatang air, batuan, fosil tumbuhan laut serta alat-alat batu. Diperkirakan usianya sekitar 2 juta tahun yang lalu hingga 200.000 tahun yang lalu, yakni dari kala Pliosen akhir hingga akhir Pleistosen tengah. Dari empat kluster BPSMPS, Krikilan (di Kecamatan Kalijambe) menjadi situs pusat dengan koleksi terlengkap. Koleksi tersebut terbagi menjadi tiga ruang pamer. Ruang pertama berisi sejumlah diorama yang memberikan informasi tentang manusia purba dan hewan yang ada di situs sekitar 1 juta tahun yang lalu.

Dari menara pandang, kamu juga bisa bergeser ke dua kluster lain yakni Bukuran dan Ngebung. Lokasinya searah dengan menara pandang yang berjarak sekitar 3 kilometer. Jika berkeinginan ke Kluster Dayu, sepertinya Anda harus berputar menyeberangi Sungai Bengawan Solo terlebih dahulu.

Bagi yang pengin membeli cinderamata, terdapat beberapa kios yang menjual aneka produk khas Sangiran. Produk tersebut antara lain cincin batu, ukiran, patung, atau kaus bertuliskan Sangiran, The Homeland of Java Man. Kantin makanan juga tersedia di area Kluster Krikilan.

Tiket masuk BPSMPS cukup terjangkau senilai Rp5.000 untuk turis lokal dan Rp10.000 untuk turis asing. Sedangkan biaya parkir per motornya sekitar Rp2.000. Tiket itu berlaku untuk Kluster Krikilan lantaran tiga kluster lain belum mematok tiket masuk.

 

1 Comments

  1. CecilasiRtse
    CecilasiRtse
    , 2017-06-12

    I see your website needs some fresh articles. Writing manually is
    time consuming, but there is solution for this hard task.
    Just search for – Miftolo’s tools rewriter

    Quote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked